Home / Virtual Detective Tabito / SINOPSIS Virtual Detective Tabito Higurashi part 2

SINOPSIS Virtual Detective Tabito Higurashi part 2

SINOPSIS dorama Virtual Detective-Tabito Higurashi part 2. Tabito kehilangan nyaris semua inderanya, kecuali penglihatan. Ia melanjutkan hidup selama ini hanya dengan mengandalkan penglihatannya saja. Kehidupannya lebih berwarna dengan kehadiran putrinya, Tei-chan. Dan kini ada Youko-sensei, guru sekolah Tei yang ‘mungkin’ saja, salah satu orang dari masa lalunya.

Tabito dan yang lain mengunjungi restoran ayah Youko-sensei. Youko-sensei ingin membuktikan kalau masakannya sama dengan buatan ayahnya. Tapi Tabito menemukan dua hal yang berbeda. Yang pertama, karena bumbu rahasia berupa bubuk coklat dalam saus masakan. Lalu yang kedua berupa ‘perasaan’.

“Bisakah aku jawab dengan jujur?” tanya Tabito. Saat ayah Youko-sensei mengiyakan, Tabito baru melanjutkan ucapannya, “Aku melihat ‘kecemburuan’,” bisik Tabito pada ayah Youko-sensei.

Bukannya marah dengan jawaban Tabito, ayah Youko-sensei justru tersenyum, “Terimakasih. Tolong jaga Youko!” pintanya kemudian.

Tabito, Yukijo dan Tei-chan kemudian pamit pulang.

Virtual Detective 125

“Apa-apaan ini?!” protes Youko melihat ayahnya tampak akrab dengan Tabito.

“Ada alasan kenapa ayah tidak mengatakan soal bumbu rahasia itu. Aku berpikir … untuk memberitahukan bumbu rahasia itu pada calon pewaris restoran ini. Dan kau sekarang adalah guru taman kanak-kanak. Kalau aku akan mengatakannya, itu pasti pada menantuku. Tapi sekarang kau membawa calon suami potensia. Aku cemburu padanya. Pria dengan pandangan ke depan sepertinya, aku tentu harus menerimanya,” curhat ayahnya.

Youko-sensei kesal dengan jawaban ayahnya yang tidak terduga ini.

Virtual Detective 202

Hari itu Tabito datang ke sekolah untuk menjemput Tei. Ia melihat-lihat gambar milik anak-anak. Youko-sensei menunjukkan gambar milik Tei-chan yang lebih bagus dibanding yang lain, gambar ayahnya saja.

Tapi Tabito justru tertarik pada gambar lain. Youko-sensei mengatakan kalau itu gambar milik murid lain, namanya Seiji-kun. Youko-sensei menunjukkan anak itu, yang sedang dijemput oleh ibunya. Youko-sensei juga mengatakan kalau ibu Seiji ini bekerja dua pekerjaan sekaligus dan membesarkan Seiji sendirian. Tapi apa yang dilihat Tabito berbeda dari yang dilihat kebanyakan orang. Saat itu, rekan sesama guru, si sensei cantik, Tomoko-sensei datang bergabung.

Virtual Detective 203

Youko-sensei dan Tabito menemui kepala sekolah. Mereka menunjukkan gambar milik Seiji-kun. Dengan semangat, Youko-sensei mengatakan kalau gambar itu tampak sangat sedih.

“Mungkin saja, Seiji-kun punya masalah berat di rumah,” tebak Youko-sensei. Ia berusaha menjelasakan kalau semuanya dilihat oleh Tabito, semuanya.

Kepala sekolah tampak tidak senang. Ia sebal karena Youko-sensei terusa saja mengoceh tanpa memberikan kesempatan yang lain untuk bicara. Kepala sekolah akhirnya meminta Youko-sensei untuk keluar ruangan itu dan membiarkan dirinya dengan Tabito bicara.

Virtual Detective 204

Kepala sekolah mulai bicara serius dengan Tabito, “Di sekolah ini, kami ingin anak-anak belajar dasar kehidupan … “ dan sederet ucapan lainnya yang mengacu pada teori tentang pendidikan.

Tabito berusaha menjelasakan maksudnya, kalau ia merasakan kesedihan luar biasa dari gambar milik Seiji-kun. Yang itu artinya, Seiji-kun ini butuh perhatian lebih. Tapi lagi-lagi kepala sekolah memotong ucapan Tabito dan menceracaukan soal teori pendidikan.

“Nilai-nilai social itu, yang juga harus kau ajarkan pada Tei-chan juga,” kepala sekolah menutup obrolan dengan Tabito.

Virtual Detective 205

Gagal meyakinkan kepala sekolah soal keadaan Seiji, Tabito akhirnya menyelidiki ibu Seiji, Emi-san. Dia bekerja di sebuah tempat penjualan makanan instan. Dengan padatnya pembeli, itu membuat Emi-san harus bekerja ekstra keras. Beberapa kali ia tampak dimarahi atasannya karena tidak bekerja dengan cepat untuk melayani pembeli.

Tabito sengaja datang ke tempat itu untuk membeli makanan. Ia menyaksikan semuanya, betapa Emi-san harus bekerja begitu keras di sana. Tapi Tabito hanya bisa melihat saja dari jauh, tanpa bisa melakukan apapun.

Virtual Detective 206

Tomoko-sensei sedang menemani murid-muridnya yang tengah tidur siang. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari kekasihnya yang bekerja di stasiun TV, Ken Asai-san.

Maaf, aku tidak bisa bicarakan semua, tapi karena suatu masalah, aku dikurung enam bulan dan dipecat dari pekerjaan. Aku sangat marah. Aku mungkin akan pindah ke divisi lain, tapi sepertinya akan sulit untuk masa depan kita.

Tomoko-sensei menarik nafas berat. Ia mulai mengetik … Aku tidak berniat kencan denganmu lagi. Ia lalu mengirim pesan itu pada kekasihnya, “Kandidat calon suamiku gagal lagi huh? Aku benar-benar tidak beruntung!” keluhnya.

Virtual Detective 207

Setelah membalas pesan dari ponselnya, Tomoko-sensei ikut tidur di dekat murid-muridnya. Tapi, saat terbangun ia kaget karena salah satu muridnya tidak ada. Seiji-kun hilang! Tomoko-sensei segera mencari Seiji ke seluruh sekolah. Ia dibantu pula dengan rekan-rekannya yang lain. Tapi tetap saja, Seiji-kun tidak ditemukan di manapun. Tomoko-sensei mulai panic. Kepala sekolah bahkan berpikir kalau mereka harus menghubungi polisi, karena mungkin saja ini penculikan.

Dari arah lain, Youko-sensei tergopoh-gopoh datang, “Tei-chan bilang dia melihat Seiji-kun dibawa!” lapornya pada kepala sekolah.

Virtual Detective 208

Kemana Seiji-kun pergi? Youko-sensei dan kepala sekolah—yang rambutnya sudah berantakan—menemukan Seiji-kun di rumah Tabito. Ternyata orang yang tadi membawa Seiji pergi adalah Tabito. Kepala sekolah nyaris marah, tapi Tabito meminta mereka semua tidak berisik karena Seiji tengah tertidur. Tampak Seiji yang tertidur nyaman dalam balutan pakaian dan topi putih di pangkuan Tabito.

Kemarahan kepala sekolah batal reda saat ia melihat gunting di atas meja depan Tabito, “Apa yang kau lakukan pada Seiji-kun?!”

Tabito bicara setengah berbisik, “Aku minta maaf karena membawanya tanpa memberitahukan. Aku hanya ingin kalian melihat ini,” Tabito melepas topi putih di kepala Seiji. Ini membuat Kepala sekolah dan Youko-sensei makin syok melihatnya.

Virtual Detective 209

Ibu Seiji, Emi-san tergopoh-gopoh datang ke sekolah saat diberi kabar kalau Seiji-kun menghilang. Tomoko-sensei minta maaf pada Emi-san karena Seiji sempat hilang akibat kecerobohannya yang tidak bisa menjaga Seiji. Tapi saat masuk, Emi-san melihat Seiji tengah asyik bermain lompat-lompat bersama Youko-sensei. Emi-san pun bisa bernafas lega karenanya. Emi-san membentangkan tangannya dan akan mengajak Seiji pulang.

Tapi Tabito menahannya, “Sebelum aku mengembalikan Seiji-kun, aku ingin bertanya satu hal.”

Emi-san heran, “Kau bilang ‘mengembalikan’ … tapi Seiji adalah putraku!”

“Benar. Dia putramu yang kau besarkan seorang diri. “

Rupanya ucapan Tabito ini membuat Emi-san tersinggung. Ia merasa kalau ini pelecehan, hanya karena ia adalah orang tua tunggal yang membesarkan anak sendirian, bukan berarti orang lain tahu benar keadaan yang sebenarnya.

Tabito kemudian melepas topi yang tadi digunakan oleh Seiji, “Jadi, luka di kepala Seiji ini karena anda? Dari kepala Seiji, aku bisa melihat banyak perasaan terluka dan sedih. Lalu dia membiarkanku memotong rambutnya. Aku minta maaf soal itu. Tapi, jika aku tidak melakukan ini, tidak akan ada yang percaya. Setiap rumah pasti punya aturannya sendiri. pekerjaan juga sulit. Tapi memukul putramu sendiri untuk melampiaskannya, juga bukan hal benar. “

“Kau pikir kau tahu semuanya?” Emi-san masih tidak terima.

“Maaf, aku melihatnya,” aku Tabito.

Emosi Emi-san makin naik, “Jangan katakan hal tidak masuk akal! Ayo Seiji, kita pulang!”

Virtual Detective 210

Emi-san menarik tangan Seiji dan mengajaknya pulang. Tapi, Seiji menolak ajakan ibunya ini. Emi-san masih marah karena Tabito seenaknya saja memotong rambut putranya.

Seiji berkeras untuk bertahan, “Aku yang memintanya untuk memotong rambutku. Jadi, papanya Tei-chan dan yang lain tidak jahat. Mama juga tidak jahat,” aku Seiji. “Karena aku nakal, aku membuat mama kesal. Mama tidak salah. Mama! Mama!” Seiji justru menangis. Ia memeluk ibunya.

Dipeluk seperti ini, Emi-san justru tidak senang. Ia berusaha melepaskan pelukan itu. Terakhir, ia bahkan membuat Seiji terjatuh di lantai. “Seperti ini, anak ini mempercayaiku dengan sangat. Saat aku pulang bekerja dan kelelahan. Saat aku meneriakinya. Tidak peduli betapa keras aku memarahinya, dia selalu biang ‘Mama, aku sayang padamu’. “ Emi-san menarik Seiji bangun dan menelungkupkan kepala anak itu dalam pelukannya. “Bagiku, dipercaya seperti ini, aku tidak cukup kuat untuk membalasnya. Dalam keadaan ekonomi kami ini, aku tidak punya biaya untuk membalas cintaku. Tidak aka nada yang paham!”

Kali ini Youko-sensei yang ikut bicara, “Tapi Tabito-san juga … membesarkan Tei-chan sendiri. Aku yakin, tiap orang mengalami kesulitannya masing-masing.”

Virtual Detective 211

“Benar, aku memang tidak mengerti,” Tabito kembali bicara. “Tei … sebenarnya bukan putri kandungku. Tentu saja, aku menanggapnya seperti putriku. Tapi, orang tua dan anak kandungnya, memiliki rasa saling percaya secara alami. Meski aku dan Tei saling percaya sebagai orang tua dan anak, itu tidak terjadi secara alami.”

“Tidak! Kau dan Tei-chan adalah orang tua dan anak,” protes Youko-sensei.

Tabito mengerti, “TIdak. Emosi dan insting alami adalah dua hal yang berbeda. Tapi, bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Aku iri padamu. Berbanggalah dengan insting alami itu, dan dicintai oleh Seiji.”

Emi-san tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia semakin erat memeluk putranya itu, Seiji. Seiji-kun pun membalas pelukan mamanya tidak kalah erat.

Orang-orang tidak sadar kalau ada orang lain yang juga mendengarkan pembicaraan mereka. Tei-chan, dia mengintip dari luar dan mendengar semua ucapan ayahnya, Tabito.

Virtual Detective 212

Seiji dan ibunya, Emi-san pamit pulang. Mereka mengatakan kalau dipotongnya rambut Seiji, sudah bukan masalah lagi. Mereka juga titip pesan pada Youko-sensei untuk mengucapkan terimakasih pada Tabito untuk semuanya.

“Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya melihatnya. Aku tidak bisa menyampaikan apa yang kulihat dengan baik. Dan karenanya, malah jadi masalah besar. Aku minta maaf,” sesal Tabito.

Tapi setelahnya Tabito ambruk. Ia bekerja terlalu keras hari ini.

Virtual Detective 213

Yukiji membawa pulang Tabito ke rumah. Dokter Enoki, yang biasa merawat Tabito juga datang. Saat mereka memperhatikan, tiba-tiba saja Tabito duduk. Dikiranya Tabito sudah bangun dari tidurnya. Ternyata itu hanya reflex saja, karena Tabito kembali tertidur dengan telentang lagi.

“Sudah kubilang, agar jangan banyak menerima pekerjaan, kan?” ujar dokter Enoki.

“Belakangan, banyak pekerjaan yang ditolak,” cerita Yukiji.

Dokter Enoki merasa aneh, karena biasanya tidak begitu. Ia kemudian terus mengoceh, kalau selama ini Tabito bekerja untuk menghidupi seorang anak yang tidak jelas dari mana (Tei-chan). Yukiji protes dengan ungkapan si dokter. Dokter Enoki melihat kalau hubungan Tabito dengan Tei semakin erat seperti orang tua dan anak. Ini bisa berbahaya bagi Tabito.

Mereka dikagetkan oleh Tei-chan yang baru saja pulang. Yukiji kalang kabut, takut kalau Tei-chan mendengar obrolan mereka tadi. Yukiji heran, apa Tei pulang sendirian. Tapi Tei mengatakan kalau ia pulang di antar oleh sensei-nya. Tei kemudian berbalik menuju kamarnya sendiri.

Virtual Detective 214

Seperti cerita Tei-chan, dia di antar oleh sensei-nya, yakni Youko-sensei. Bukannya langsung pulang, Youko-sensei justru masuk dan memasak makanan untuk mereka semua.

Yukiji melihat Tei tampak murung. Dia khawatir kalau Tei mendengar obrolannya tadi dengan dokter Enoki.

Youko-sensei yang selesai memasak, menyajikan makanan itu untuk mereka semua. Termasuk Tei-chan yang makan sendiri. Youko-sensei melihat Tei kesulitan makan karena rambutnya menutupi wajahnya. Ia lalu melepas jepit rambut di rambutnya sendiri dan memasangkannya pada Tei, di sebelah kanan dan kiri. Sekilas, Tei sempat melihat dirinya di cermin, tampak cantik.

Virtual Detective 215

Selesai makan, Tei mencuci peralatan makan tanpa diminta. Youko-sensei melihat kalau Tei sangat jauh lebih dewasa dibanding usianya. Ia teringat awal mula kisahnya dengan Tei. Ia yang mengikuti Tei ke rumahnya, masuk ke rumah tanpa izin, dan bahkan kini memasak untuk mereka semua yang tadinya tidak ia kenal. “Aku merasa senang melakukan itu semua dan ingin terus melakukanya dengan Tei-chan,” pinta Youko-sensei. “Yukiji?”

Yukiji hanya bisa menghembuskan nafas berat. Ia masih sulit membiarkan ada orang lain lagi masuk dalam kehidupan mereka semua, “Tanyakan pada kakak (Tabito).”

Virtual Detective 216

“Maafkan aku Tabito-san. Maaf mengganggu istirahatmu … “ pelan-pelan Youko-sensei mencoba bicara pada Tabito.

Yukiji mendekat dan mengatakan kalau itu percuma saja. Karena meski dipanggil, Tabito tidak akan bisa dengar. Pada akhirnya, Youko-sensei tetap saja tidak mengerti Tabito.

“Cukup Yukiji!” dokter Enoki turun tangan. Ia menjelasakan pada Youko-senei, sekali Tabito tertidur, maka tidak mungkin hal-hal di luar dirinya bisa membuatnya terbangun. Tidak ada pilihan lain kecuali membuatnya terbangun dengan sendirinya. “Menutup satu inderanya, matanya … mungkin adalah ketakutan terbesar bagi Tabito. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk Tabito.”

Yukiji kemudian menjelaskan kalau pada awalnya, agensi detektif mereka dibuat untuk memanfaatkan kemampuan mata milik Tabito. Tapi dengan keadaan matanya sekarang, mereka jadi hanya menerima sedikit pekerjaan. “Tapi, untuk orang asing sepertimu, Aniki—kakak menggunakan berkali-kali mata seriusnya. Tampaknya bukan kau juga yang memaksanya. Tapi, Aniki tertarik padamu. Mungkin saja Aniki berpikir kalau kau adalah snak U-man.”

Youko-sensei semakin bingung. Yukiji menjelaskan kalau snack itu adalah kesukaan Tabito. Itu karena Tabito masih ingat jelas rasanya. Tabito tidak terlahir dengan kondisi seperti ini. Dia hanya bergantung pada ingatannya. Dia juga bisa merasakan makakan sebelum ia kehilangan inderanya yang lain.

“Apa hubungannya denganku?” Youko-sensei masih belum mengerti.

“Mungkin saja, Aniki menemukan ada kenangan darimu, sesuatu yang dia ingat tentang dirimu. Dalam keadaan ini, saat kau di dekatnya, Aniki akhirnya menggunakan kekuatan matanya. Jadi, bisakah kau jaga jarak dari dia?” pinta Yukiji kemudian. (intinya sih Yukiji khawatir, kalau di dekat Youko-sensei, Tabito jadi sering menggunakan kemampuan matanya. Dan ini pada akhirnya berbahaya bagi Tabito)

Virtual Detective 217

Yukiji masih melamun sambil sesekali meneguk minuman di depannya. Tei yang sudah rapi dengan baju tidur mengucapkan selamat malam pada Yukiji.

“Bagaimana kalau kubacakan buku bergambar menggantikan ayahmu?” Yukiji menawarkan diri.

“Tidak, aku akan tidur sendiri. Dan kau bau alcohol. Yukiji, aku akan mencoba melakukan sesedikit mungkin masalah untuk papa,” Tei lalu beranjak menuju ranjangnya. Ia menarik selimut dan mulai memejamkam mata.

Yukiji heran. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Tei.

Virtual Detective 218

Tei sudah bangun saat yang lain masih terpejam. Ia mencoba membuat sarapan sendiri. Tapi rambut panjangnya sedikit menyusahkan. Tei kemudian mengambil jepit rambut yang diberi Youko-sensei kemarin, dan mulai memakainya. Tei tersenyum melihat bayangan dirinya di depan cermin.

Sarapan hampir selesai saat Tei sadar kalau susu telah habis. Tei mengambil uang di tempat biasanya. Tidak lupa ia meninggalkan catatan di atas meja sebelum berjalan keluar apartemen.

Sepeninggal Tei, poster berisi sketsa wajah orang yang diduga penculik anak, tampak berkibar di dinding tekat tangga.

Tei membeli susu di toko milik orang Korea. Keadaan sekitar masih sepi, karena hari masih pagi. Tei tidak sadar kalau dirinya diikuti. Hingga di belokan terakhir sebelum apartemen, ada seseorang yang memanggil nama Tei.

Virtual Detective 219

Youko-sensei tengah melamun di taman saat Yukiji meneleponnya. Yukiji mengatakan kalau Tei sudah tidak ada saat dirinya terbangun, dan hanya meninggalkan catatan kalau Tei pergi beli susu. Tapi sudah lama, dan Tei tidak juga kembali.

Kemungkinan kecelakaan sudah diduga. Yukiji sudah memeriksa, dan tidak ada kejadian kecelakaan di sekitar lingkungan mereka. Ide membangunkan Tabito pun ditolak cepat oleh Yukiji. Karena tidak mungkin bisa membangunkan Tabito saat ini.

Yukiji dan Youko-sensei akhirnya sepakat untuk mencari Tei. Saat mereka pergi, Yukiji menelepon dokter Enoki. Yukiji meminta dokter Enoki untuk datang dan menunggu Tabito bangun dari tidurnya.

Tei tidak juga ditemukan, meski mereka sudah berkeliling. Youko-sensei menemukan sebela sepatu Tei, ini membuatnya semakin khawatir. Sementara Yukiji menemukan salah satu jepit rambut yang kemarin diberikan Youko-sensei pada Tei.

Virtual Detective 220

Belum lama dokter Enoki tiba, saat Tabito terbangun dengan sendirinya. Tabito heran karena dokter Enoki ada di sana. Tabito mulai menanyakan Tei. Tapi usaha dokter Enoki untuk berbohong dan tidak mengatakan keadaan Tei pada Tabito, gagal.

Tabito keburu curiga, kalau ada yang tidak beres. Dia memaksa dokter Enoki mengatakan di mana Tei berada. Tidak punya pilihan, dokter Enoki akhirnya mengatakan kebenarannya, kalau Tei mungkin saja hilang. Selain itu, saat ini Yukiji juga sedang mencari Tei.

“Kemampuanmu melihat perasaan terdalam, adalah kemampuan luar biasa. Tapi Tabito, perasaan saja belum tentu benar. Aku khawatir tentang itu, jadi aku berbohong soal Tei. Bahkan kebohongan kadang penting,” dokter Enoki berusaha menjelaskan.

Virtual Detective 221

Tapi Tabito tidak mau mendengar ucapan dokter Enoki. Ia memutuskan untuk keluar dan mencari Tei sendiri. Beberapa kali Tabito menggunakan cairan merah jambu dan mata seriusnya untuk mencari jejak Tei. Bahkan tubuhnya terhuyung nyaris ambruk hingga tidak bisa menghindari sepeda yang sedang melaju di jalan.

Tabito ambruk ditabrak sepeda. Saat itu, Yukiji dan Youko-sensei tepat tiba di sana, “Sudahlah. Biar kami yang lakukan selanjutnya. Apa kau dengar? Kau bisa saja buta!” bentak Yukiji.

Tapi Tabito tetap berkeras, “Aku melihat ketakutan. Tapi tidak tahu, itu Tei atau bukan. Ayo bergegas!”

“Tunggu, aniki! Kalau kau buta, kau tidak akan bisa melakukan apapun lagi. Hidupmu akan seperti berada di kotak hitam!” Yukiji masih berusaha menghentikan Tabito.

“Aku tidak peduli! Kau pikir, apa hal indah yang sangat ingin kulihat? Senyum milik Tei. Aku tidak peduli kalau mataku jadi buta, untuk bisa melihatnya lagi. Kalau tidak bisa melihat senyum Tei lagi, tidak ada artinya melihat yang lain. Tidak ada hal lain lagi yang ingin kulihat!”

Virtual Detective 222

Yukiji menyerah memaksa Tabito kembali, “Baiklah. Aku akan membantumu.” Yukiji dibantu Youko-sensei kemudian memapah Tabito melanjutkan pencarian mereka.

Karena terlalu banyak menggunakan matanya, tubuh Tabito makin terhuyung nyaris ambruk. Yukiji dan Youko-sensei masih setia menemaninya. Tapi mereka terhenti di depan sebuah kompleks apartemen. Tabito mengatakan kalau pola yang dia ikut berhenti di sana. Artinya Tei ada di salah satu apartemen itu.

“Tapi, aku tidak tahu lagi, yang mana ‘rasa takut’ milik Tei,” Tabito menyesal.

Tanpa jejak yang bisa diikuti oleh Tabito, kemungkinan mereka menemukan Tei semakin kecil.

Tapi Tabito tertarik pada saku milik Youko-sensei. Youko-sensei mengeluarkan jepit rambut yang ia temukan tadi di jalan. Jepit rambut yang sempat ia berikan pada Tei kemarin.

“Sensei, apa kau ingat perasaan apa yang kau punya saat memasangkan benda ini ke rambut Tei?” melihat Youko-sensei tampak bingung, Tabito melanjutkan ucapannya. “Ini cinta. Kau memasangkan jepit rambut ini bersama rasa cinta. Aku bisa melihat pola cinta di jepit rambut ini. Dan pola yang sama bisa terlihat dari apartemen itu!” Tabito menunjuk sebuah apartemen di kompleks itu. Apartemen yang menurutnya, menunjukkan pola yang sama seperti pada jepit rambut itu.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di Virtual Detective Tabito Higurashi part 3 end

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. buat sinop yang ada junpeinya lagi donk hehe

    • Na juga pengennya gitu
      tapi junpei belum main drama lagi nih
      kemarin2 lagi asyik di stage play
      di list drama winter, nama junpei pun nggak ada
      terus awal tahun ini di film, jadi harus puasa dulu nonton wajah junpei
      gomene

Leave a Reply

Scroll To Top