Home / Virtual Detective Tabito / SINOPSIS Virtual Detective Tabito Higurashi part 1

SINOPSIS Virtual Detective Tabito Higurashi part 1

SINOPSIS dorama Virtual Detective-Tabito Higurashi part 1. Sambil menunggu drama musim dingin keluar sub-nya, nggak salah donk, simak dulu sinopsis satu ini. Virtual Detective Tabito Higurashi ini mempertemukan Matsuzaka Tori yang jadi detektif Higurashi dan juga Tabe Mikako. Di sini, karakter Tabe Mikako agak oon gimanaaaaa gitu. Tapi lebih ceria dibanding karakter-karakter lamanya sih. Nah, bang Tori juga memerankan detektif yang … jadi spoiler deh. Yang jelas, drama SP yang tayang Oktober lalu ini menarik kok untuk disimak.

Apa yang dilihat oleh mata, tiap orang berbeda. Bagi orang mabuk, sekitarnya tampak bergerak dan bergelombang. Penglihatan anjing hanya sebatas tiga puluh senti dari tanah. Begitu pula bagi pecinta ramen yang matanya langsung awas melihat kedai ramen yang baru buka. Bagi orang cabul, pemandangan rok pendek tentu jadi pemandangan yang paling mudah dikenalinya. Orang yang depresi hanya melihat tanah di bawahnya, dan semua warnanya abu-abu gelap. Makhluk tak kasat mata juga hanya bisa dilihat oleh orang-orang dengan kemampuan indera keenam. Tapi, pria satu ini melihat hal yang berbeda dari orang pada umumnya.

Virtual Detective 102

Higurashi Tabito (Matsuzaka Tori) berhenti dan memandang ke jalanan. Di sampingnya ada rekan kerjanya dan juga klien mereka yang sedang mencari sesuatu. Tidak lama kemudian ketiganya kembali berjalan. Kali ini ke jalanan di antara pemukiman. Si klien terus saja protes karena yang ia cari belum juga ketemu. Tabito kemudian berhenti depan tanaman dan mengatakan kalau ia sudah menemukannya. Si klien bingung, karena tidak ada apapun.

Tabito kemudian pergi karena pekerjaannya selesai. Rekan kerjanya, memberikan kuitansi pekerjaan mereka. Si klien marah-marah karena tariff yang dikenakan terlalu mahal. Tapi si klien diingatkan kalau harga itu sama dengan jasa saat mereka membant si klien mencari tempat persembunyian musuh mereka. Tapi tidak lama setelahnya, sesuatu mengeong. Yang mereka cari adalah kucing yang bernama Shishido Joe-san. Si klien tersenyum lega, karena seperti biasa, pekerjaan Tabito pasti lancar.

Empat dari lima indera, pendengaran, penciuman, perasa dan sentuhan, semuanya hilang. Bekerja sebagai detektif hanya mengandalkan penglihatan saja. Pria ini bernama Higurashi Tabito. Entah apa saja yang sebenarnya dapat dilihat oleh pria ini.

Virtual Detective 103

Di sebuah sekolah taman kanak-kanak

Waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah. Sejumlah siswa sudah dijemput orang tua masing-masing. Tapi sebagian yang lain dititipkan di sekolah hingga sore dan orang tuanya menjemput. Salah seorang guru sudah berganti pakaian dan berdandan cantik. Dengan tas untuk menutupi wajahnya, ia mengendap-endap keluar.

Tapi guru lain, Yamakawa Youko-sensei (Tabe Mikako) memergoki kalau rekannya itu berniat melarikan diri dan mengejarnya. Harusnya ini adalah jadwal shift jaga si guru yang akan melarikan diri. Tapi si guru ini meminta Youko-sensei untuk gantian shift dengan alasan demam.

“Kencan buta lagi kan?” tebak Youko-sensei.

Si guru cantik ini tidak berkutik lagi. Ia minta pada Youko-sensei untuk kembali bertukar jadwal dengan alasan, dia harus datang pada kencan buta ini karena ia sudah sangat ingin menikah. Rayuan ini akhirnya meluluhkan Youko-sensei dan membuatnya mau bertukar jadwal.

Virtual Detective 104

Pada shift siangnya, Youko-sensei bermain dengan salah seorang siswa laki-laki. Ia baru sadar ada siswi lain dengan rambut ikat dua tengah memperhatikannya. Anak itu, Momoshiro Tei-chan, sibuk menggambar dan menolak untuk diajak bermain. Tei-chan kesal karena Youko-sensei tidak hafal dengannya.

Tapi keributan di luar menarik perhatian Youko-sensei. Ia menemukan salah seorang guru tengah menjewer salah satu anak, Seiji-kun. Ternyata Seiji-kun ini tengah berusaha membuka ruangan guru dengan kunci. Youko-sensei yang kenal kalau kunci yang dipegang Seiji ini adalah miliknya, segera mengambilnya dengan kasar. Ini membuat Seiji ketakutan dan menangis.

Tidak lama setelahnya, ibu Seiji datang untuk menjemput Seiji. Youko-sensei minta maaf karena sudah membuat Seiji menangis. Tapi ibu Seiji mengatakan tidak masalah, karena memang Seiji yang nakal. Mereka lalu pamit pergi.

“Kau beruntung, ibunya Seiji baik,” ujar guru lain pada Youko-sensei.

Virtual Detective 105

Youko-sensei kembali ke dalam dan menemukan lipatan berbentuk kecoa buatan Tei-chan. Ini membuatnya geli sendiri. Ia lalu melihat Tei-chan sudah berganti baju dan berada di luar. Meski diingatkan kalau ini bukan jam bermain di luar, Tei tidak mematuhinya. Tei-chan berkeras akan pulang sendiri.

Youko-sensei meminta Tei-chan menunggu ibunya untuk menjemput. Tapi Tei bilang ia tidak punya ibu. Lalu ayahnya pun tidak akan menjemputnya. Tei bilang yang selama ini menjemputnya adalah Yukiji. Youko-sensei menyangka kalau itu maksudnya Yuki-jii (kakek Yuki).

Tei berkeras pulang. Ini membuat Youko-sensei mengejarnya. Tei pulang tidak melalui pintu depan, ia justru melompat pagar belakang sekolah. Youko-sensei pun terpaksa mengikutinya dengan cara itu. Youko-sensei terus saja mengikuti Tei-chan. Ia pulang melewati berbagai jalanan, jalan tembus bahkan halaman orang, hingga akhirnya sampai di sebuah blok yang banyak berisi tempat bersenang-senang untuk dewasa. Youko-sensei heran karena Tei-chan tinggal di tempat seperti itu.

Tei-chan tidak terlalu peduli diikuti senseinya satu ini. Ia santai saja pulang dan naik tangga sebelum sampai di rumahnya. Tei-chan membuka pintu dan masuk. Youko-sensei juga melakukan hal yang sama, mengikuti Tei-chan hingga masuk rumah.

Virtual Detective 106

Youko-sensei dibuat kaget dengan keadaan rumah itu. Ia juga heran melihat seorang pria tengah tertidur di kursi. Tei-chan mengatakan kalau itu papanya dan meminta Youko-sensei untuk pulang saja.

Tei-chan lalu mengeluarkan makanan yang telah disimpan di lemari es lalu menghangatkannya. Ia kemudian menyetel musik dengan keras, kemudian mulai makan. “Tidakkah Sensei akan pulang?” Tei-chan mengusir gurunya ini dengan halus.

“Ah ya, maaf sudah mengganggu,” Youko-sensei pamit pulang.

Virtual Detective 107

Tapi Youko-sensei tidak puas. Ia mulai menarik-narik bajunya sendiri, bersiap melampiaskan rasa tidak puasnya. Youko-sensei lalu mendekai ayah Tei-chan yang tertidur di sofa dan berusaha membangunkannya. Tapi ayah Tei yang tiba-tiba bangun kaget hingga terjatuh di lantai.

“Kubilang untuk membiarkannya tidur kan?!” protes Tei-chan.

Youko-sensei sempat mengkeret. Tapi keberaniannya akhirnya terkumpul kembali, “Anda ayahnya Tei-chan kan? Kenapa Anda tidak menjemputnya hari ini? Aku gurunya.”

Masih setengah sadar, ayah Tei-chan memperkenalkan diri, “Saya Higurashi Tabito.”

“Jadi, kenapa Anda tidak datang? Sepertinya Anda meminta kakeknya untuk menjemputnya,” cecar Youko-sensei lagi. “Tapi kau ada di rumah kan? Kenapa kau tidak datang?”

“Maaf, aku tertidur.”

“Otou-san, Tei-chan baru berusia 6 tahun. Tolong jangan biarkan dia makan sendirian. Sibuk bekerja atau tertidur, itu bukan alasan … “

Tapi ayah Tei-chan, Tabito justru beberapa kali menghindar ke kanan dan ke kiri. Ia tampak sedikit kesulitan berkomunikasi dengan Youko-sensei ini. “Ini agak liar, sepertinya mereka terlalu cepat menyerangku sebelum aku membacanya. Kalau kau bicara lebih pelan, itu lebih mudah dipahami.”

Youko-sensei makin heran dengan ucapan Tabito-san ini. Tei-chan akhirnya turun tangan dan menjelaskan kalau ayahnya ini melihat kata-kata dengan matanya. “Lebih penting, biarkan papa ke toilet dulu.”

Youko-sensei baru sadar kalau ia berdiri di depan pintu toilet. Lalu Tabito-san berdiri di depannya menunggu tidak sabar untuk ke toilet.

Virtual Detective 108

Pintu apartemen terbuka. Seseorang masuk, dan Tei-chan memanggilnya dengan Yukiji. Yukiji mengaku lupa menjemput Tei-chan di sekolahnya karena sibuk mengumpulkan uang. Youko-sensei heran, tadinya ia mengira yang dimaksud Tei-chan adalah Yuki-jii atau kakek Yuki, ternyata namanya memang Yukiji.

Yukiji memberikan segepok uang pada Tei-chan dan memintanya untuk menghitung semuanya. Dengan sumringah, Tei-chan langsung menghitung dan membagi uang itu di atas meja. Youko-sensei makin tidak mengerti lagi dengan keadaan rumah itu. Tapi Tei-chan menjelasakan kalau setiap orang di rumah itu punya kewajibannya masing-masing.

“Ini 129 lembar dan yang lain 6 lembar,” Tei-chan selesai menghitung uang itu. Yukiji mengiyakan hitungan Tei-chan. Tabito-san pun bergabung dan memuji Tei-chan yang makin pintar,

Yukiji lalu meminta Tei-chan untuk menyimpan uang itu. Dengan sigap, Tei-chan memasukkan uang-uang itu bersama tumpukan lainnya ke dalam lemari penyimpan.

Virtual Detective 109

Diusir secara halus (lagi), Youko-sensei akhirnya pulang. Di jalan, ia teringat dengan gantungan kunci miliknya yang berbentuk bola berwarna bening. Gantungan kunci itu hilang entah di mana.

Pada gantungan kunci itu … ada kenangan yang tidak bisa kukatakan pada siapapun.

Saati itu, Youko-sensei masih kecil. Ia tertarik dengan gantungan kunci milik salah seorang temannya. Saat akan pulang, Youko menemukan gantungan kunci itu terjatuh di lantai dan mengambilnya. Tadinya Youko berniat akan mengembalikannya, tapi sensei mengingatkan kalau ia sudah dijemput orang tuanya. Youko pun batal mengembalikan gantungan kunci itu.

Itu artinya aku bisa melukapan hal itu.

Virtual Detective 110

Youko-sensei kembali ke sekolah. Dia menceritakan semuanya pada rekan kerjanya yang cantik. Keduanya asyik mengobrol padahal kepala sekolah sedang memberikan pengarahan. Kepala sekolah yang merasa terganggu karena tidak diperhatikan, menegur kedua sensei ini. Tapi si sensei cantik dengan lancar bisa mengatakan ulang apa saja yang tadi telah dikatakan oleh kepala sekolah untuk pengarahan. Kepala sekolah batal marah.

Kedua sensei ini kembali mengobrol dengan seru. Youko-sensei berusaha agar suaranya sekecil mungkin, tapi tidak dengan si sensei cantik. Ia mengobrol dan menanggapinya dengan heboh.

“Yamakawa-sensei!” kali ini kepala sekolah membentak Yamakawa Youko-sensei.

“Ya! Maafkan karena aku tidak mendengarkan!” Youko-sensei menunduk minta maaf.

Virtual Detective 111

Youko-sensei kembali bertemu dengan Tei-chan dan keluarganya. Menurut Tei-chan, ayahnya berkeras untuk mencarikan gantungan kunci milik Youko-sensei yang hilang. Youko-sensei heran, karena ia tidak pernah merasa minta dibantu untuk mencarikan. Tapi kata Tei-chan, papanya tidak akan berhenti kecuali Youko-sensei sendiri yang memintanya berhenti.

“Kita akan menemukan gantungan kunci secepatnya,” ujar detective Tabito.

“Bagaimana kau tahu kalau aku kehilangan gantungan kunci?” Youko-sensei heran.

“Saat aku lewat jalan ini di pagi hari untuk mengantar Tei ke sekolah, aku melihat pola penyesalan. Pola itu dan pola yang kulihat di sisa pengait gantungan kuncimu sama.”

“Aku sudah mencarinya kemarin dan tidak bisa menemukannya,” aku Youko-sensei pula.

Det.Tabito mulai beraksi. Dia lalu mengikuti pola yang dilihatnya dan mulai berjalan. Youko-sensei benar-benar heran dan tidak mengerti dengan ‘pola’ yang sejak tadi terus dikatakan.

“Aku bisa melihat perasaan lewat pola,” aku det.Tabito. Dia lalu memberikan contoh. Det.Tabito mengikut sebuah pola di depannya. Ada pola ketidaksabaran di sana. Mereka kemudian tiba di salah satu sudut taman dan menemukan tembok yang basah.

Youko-sensei masih belum mengerti juga dan mendekati tembok itu. Tapi yang lain justru tertawa dan mengatakan itu adalah bekas seorang yang buang air dengan berdiri. Jadi dia tadi buru-buru karena ingin buang air. Youko-sensei yang diberitahu begitu langsung menjauh dengan kesal.

Virtual Detective 112

Det.Tabito kembali serius. Kali ini mereka mengikuti pola yang benar. Mereka sampai di sebuah danau. Tanpa ragu dia masuk ke air.

“Sampai berapa jauh lagi?” Youko-sensei mulai tidak sabar. Tapi det.Tabito tidak menengok sama sekali. “Mungkin dia tidak mendengarku.

“Tentu saja dia tidak dengar,” jawab Tei-chan.

“Tapi kita bicara dengan normal … “ Youko-sensei makin tidak mengerti.

Kali ini Yukiji yang menjelasakan. Det.Tabito, selain tidak bisa mendengar, juga tidak bisa membaui aroma. Dia juga tidak bisa merasakan disentuh atau menyentuh. Kukunya di manicure, dan bahkan menggunakan sepatu warna pink. Semua aktivitasnya didasarkan dari kemampuan melihatnya saja. Bahkan saat masuk ke dalam air pun, dia tidak bisa merasakan dinginnya air. Tapi dia bisa melihat semuanya.

“Tapi, apa yang dia lihat?” Youko-sensei penasaran.

“Entahlah.”

Det.Tabito menjulurkan tangannya mencari-cari di air. Ia kemudian berseru senang karena gantungan kunci itu ditemukan. Youko-sensei makin dibuat takjub oleh si detektif muda ini.

Det.Tabito lalu kembali ke sisi danau. Yukiji mulai protes dan minta agar Tabito tidak menerima pekerjaan di luar perjanjiannya. Tabito sendiri memilih tiduran di sisi danau.

Virtual Detective 113

Tapi Youko-sensei ternyata masih belum puas, “Tunggu dulu! Jika yang kau katakan benar, artinya kau bisa melihat emosi yang kumiliki dalam gantungan kunci ini kan? Atau itu semua bohong, dan kau hanya mempermainkanku?”

Yukiji dan Tei hampir saja marah. Tapi det.Tabito menanggapinya dengan santai. Di bangun dari tidurannya di sisi danau.

Det.Tabito mengeluarkan tetes mata berwarna pink dari sakunya lalu meneteskan isinya ke matanya. Saat matanya kembali terbuka, warnanya berubah menjadi biru. Ia melihat dengan serius pada gantungan kunci yang saat ini dipegang oleh Youko-sensei, “Kenangan dan penyesalan. Dan sedikit … cinta pertama. Itulah yang kulihat. Emosi apapun itu, bernilai atau tidak, semuanya tergantung pada orang itu sendiri. Itu sesuatu yang tidak tergantikan kan?”

Youko-sensei kembali dibuat takjub. Kali ini ia sama sekali tidak bisa berkomentar apapun lagi. Saat itu,aku masih tidak percaya pada kemampuan misteriusnya. Tapi, saat aku melihat pada mata Higurashi Tabito-san, tidak tampak kebohongan di sana.

Virtual Detective 114

Di sekolah …

Youko-sensei masih saja memikirkan apa yang kemarin dialaminya bersama Tei-chan dan ayahnya. Saat rekannya yang cantik mendekat, Youko-sensei menolak mentah-mentah dan tidak mau tukaran jadwal shift.

“Bukan itu. Aku tidak membahas soal kencan buta. Sekarang aku punya kekasih, dia lulusan Tokyo Daigakusen (Universitas Tokyo) dan seorang sutradara TV. Dia bahkan yang bertanggungjawab atas acara tv yang disebut “Gogo wa honne de bucchakema show”.”

Sensei cantik lalu menunjuk pada anak-anak yang tengah menggambar keluarga mereka. Gambar milik Tei-chan tampak sangat bagus, tapi dia hanya menggambar ayahnya saja. Kedua sensei ini justru menggunjingan Tei-chan. Tentang Tei-chan yang butuh perhatian seorang ibu, hingga fakta jika Tei-chan dan papanya yang sebenarnya tidak punya hubungan darah.

“Itulah kenapa Tei-chan tampak lebih dewasa dari usianya. Tei-chan butuh ibu.”

Virtual Detective 115

Anak-anak bergerombol di depan gambar yang dipajang di dinding. Mereka mengolok-olok anak laki-laki yang bernama Seiji-kun, karena dia hanya menggambar ibu saja. Tidak hanya Seiji saja, mereka juga mengolok-olok Tei-chan karena hanya menggambar papanya saja.

Youko-sensei yang tahu mendekati anak-anak itu. Ia mencoba menjelaskan pada mereka kalau Tei-chan maupun Seiji-kun tidak menggambar lengkap karena belum sempat. Tapi Tei-chan bersikap lain. Ia buru-buru mengajak Seiji-kun untuk pergi saja dan tidak perlu mengabaikan olok-olok teman-temannya itu.

Virtual Detective 116

Enoki Clinic. Buka mulai jam dua hingga jam 3.

Tabito dan Yukiji datang ke sebuah klinik. Tulisan di depan mengatakan kalau klinik itu masih tutup. Tapi Yukiji cuek saja dan mengajak Tabito untuk masuk. Mereka memanggil dokter pemilik klinik yang ternyata tengah asyik kencan dengan perawatnya.

Tahu ada tamu masuk, si dokter buru-buru merapikan bajunya. Begitupula si perawat cantik yang begitu manja. Dokter sadarkalau hari ini adalah jadwal control kesehatan Tabito. Yukiji berkomentar kalau si dokter mempekerjakan perawat baru.

Si perawat mulai melakukan pemeriksaan pada Tabito. Meski digoda, Tabito sama sekali tidak peduli pada perawat genit itu. Justru si dokter yang kesal dan minta si perawat agar tidak main-main.

Dokter kembali memeriksa data kesehatan milik Tabito. Ia ingat kalau Tabito sempat patah tulang. Tapi Yukiji mengingatkan kalau Tabito tidak bisa merasakan, jadi mustahil kalau ia merasakan sakit dan tahu kalau tulangnya retak.

“Kau harus mengatur banyaknya kerja yang dia lakukan. Detektif yang bekerja untuk yakuza sangat beresiko,” dokter mengingatkan Yukiji. Selain rekan kerjanya, Yukiji juga yang selama ini mengurus Tabito. Terutama karena Tabito sama sekali tidak bisa menggunakan indera yang lainnya kecuali mata.

Virtual Detective 117

Hari itu, Tabito dan Yukiji yang menjemput Tei-chan ke sekolah. Mereka akan pergi, saat Youko-sensei menghentikan mereka.

“Bisa bicara sebentar. Terimakasih untuk gantungan kunci kemarin … “ Youko-sensei menatap Tabito serius. Ia teringat ucapan rekan kerjanya sensei cantik Tei-chan butuh ibu.

Virtual Detective 118

Ternyata Youko-sensei belanja bahan makanan dan ikut ke apartemen Tabito. Ia memasak makanan untuk mereka semua. Dalam waktu singkat, Tabito menghabiskan makanan buatan Youko-sensei itu. Ia sumringah sampai melihat makanan milik Yukiji dan Tei-chan sama sekali belum tersentuh.

“Mau bagaimana lagi, ini … menjijikan,” keluh Tei-chan yang diiyakan juga oleh Yukiji.

Youko-sensei tersinggung. “Tidak mungkin itu menjijikan. Itu namanya nasi hayashi, resep turun temurun dari ayahku yang memiliki restoran. Dan reputasinya selalu baik. Merendahkan nasi hayashi ini, sama artinya membuat ayahku jadi musuh!”

Yukiji tidak bisa berkomentar lagi. Jelas Tabito bisa menghabiskan semua makanan itu karena dia tidak bisa merasakan enak atau tidak. Sementara Yukiji dan Tei-chan tentu berbeda. Mereka mengusir Youko-sensei untuk pulang saja.

“Aku tidak akan pulang. Kita semua pergi!”

Virtual Detective 119

Youko-sensei mengajak Tei-chan dan yang lain ke restoran ayahnya. Dan nasi hayashi yang disajikan mampu membuat lidah mereka berdecak keenakan. Dengan mudah Yukiji dan Tei-chan memuji makanan itu. Melihat senyum mereka semua, Youko-sensei kembali bersemangat. Menurut ayahnya, sejak kecil dia selalu ingin bermanfaat bagi orang lain.

Youko-sensei duduk di depan Tabito. Wajahnya berubah serius, “Kalau kau serius berpikir soal Tei-chan, kau harus persiapkan makanan hangat dan sehat untuknya.”

Tapi ucapan Youko-sensei ini justru membuat Yukiji protes. Ia berpikir kalau selama ini Tabito sudah melakukan yang terbaik untuk Tei-chan. Tapi Youko-sensei merasa kalau itu saja masih belum cukup. Pertengkaran mereka hanya disaksikan oleh ayah Youko-sensei dari dapurnya.

Youko-sensei merasa sangat yakin kalau nasi hayashi-nya sangat lezat. Tapi Yukiji berkeras kalau buatan Youko-sensei sama sekali tidak enak. Youko-sensei berkeras kalau ia sudah mengikuti resep dari ayahnya, jadi tidak mungkin berbeda rasanya.

Akhirnya Tabito turun tangan menengahi mereka, “Ada yang berbeda antara nasi hayashi buatanmu dengan ayahmu.”

Youko-sensei berpikir, “Semua bumbunya sudah lengkap. Daging, bawang merah, bawang putih, wortel, daun bawang, jahe, jamur, kacang hijau, kecap, saus Worcestershire, saus Chuunou, mentega, wine merah, kenari … semuanya sama.”

“Ini bukan soal bahan yang tampak di mata. Ada dua hal yang tidak ada dalam nasi hayashi-mu, tetapi ada pada nasi hayashi buatan ayahmu,” ujar Tabito. “Mungkin saja ada bumbu rahasia yang belum diajarkan ayahmu padamu.”

Virtual Detective 120

Youko-sensei masih belum puas. Ia lalu mengajak semuanya ke dapur ayahnya. Ia meminta Tabito untuk menebak bumbu rahasia itu, agar ia bisa percaya. “Tapi kalau kau keliru, aku yang akan ikut mengurus Tei-chan.” Youko-sensei melihat pada ayahnya, “Ayah, apa ada bumbu rahasia yang belum kau ajarkan padaku?”

“Huh?” ayah Youko-sensei tampak salah tingkah.

“Yang kulihat bukan bahan itu sendiri, tapi aromanya. Aroma itu menjadi warna yang bisa kulihat. Jumlah warna pada nasi hayashi buatan Youko-sensei berbeda dengan jumlah warna yang ada pada nasi buatan ayahmu. Bisa aku mulai serius?”

Tabito mengeluarkan cairan merah jambu dari sakunya dan meneteskannya ke matanya. Sesaat mata itu berubah menjadi biru. Gambaran di depan Tabito berubah. Ia seolah melihat bayangan ayah Youko-sensei yang tengah memasak. Ada satu pola yang menarik perhatiannya. “Ah di sini.” Tabito menunjuk saku milik ayah Youko-sensei. Dan benar saja, di sana ada bungkusan kertas alumunium foil yang sedikit koyak.

Virtual Detective 121

“Bagaimana kau tahu?” ayah Youko-sensei heran.

Tabito tersenyum, “Oh, aku melihatnya. Aroma coklat.”

Ayah Youko-sensei tidak bisa mengelak lagi, “Benar. Aku menggunakan sedikit coklat sebagai resep rahasia dari nasi hayashi-ku. Saat menggunakan coklat, saat membuat sausnya, rasanya menjadi lebih menyatu. Aroma kaya coklat dan pahitnya, itulah rahasia nasi hayashi buatanku.”

Youko-sensei manyun, “Kenapa ayah tidak mengajarkan itu padaku?!”

Tapi ayahnya sepertinya enggan memberitahukan alasan itu. Yukiji akhirnya menengahi dan mengatakan kalau hiburan sudah selesai. Ia mengajak Tabito dan Tei-chan untuk pulang saja.

Virtual Detective 122

“Ini belum selesai! Tabito-san bilang ada dua hal yang hilang tadi. Kalau kau tidak bisa menebak satu lagi, berarti aku yang menang!” protes Youko-sensei.

Yukiji tidak senang dengan protes sensei satu ini. Tabito sebenarnya senang-senang saja, tapi ia juga tampak enggan mengatakannya, karena yang kedua itu bukanlah bahan makanan, tetapi ‘perasaan’.”

Virtual Detective 123

Obrolan mereka terhenti saat rekan kerja Youko-sensei, si sensei cantik datang. Rupanya ia datang bersama kekasihnya. Sensei cantik juga baru tahu kalau restoran itu adalah milik ayah Youko-sensei. Melihat ada Tabito di sana juga, sensei cantik berpikir kalau Youko-sensei ada apa-apa. Hal yang jelas ditolak mentah-mentah oleh Youko-sensei.

Sensei cantik memperkenalkan kekasihnya yang dikatakan lulusan Todai dan bekerja di sebuah stasiun TV terkenal.

“Restoran yang menyenangkan. Bisakah ini dimasukkan juga ke programku suatu saat?” ujar si pria dari stasiun TV itu.

Youko-sensei tentu senang sekali dengan ide itu. Apalagi si pria dari stasiun tv bilang, kalau restoran itu masuk TV, maka pelanggan akan berbondong-bondong datang ke sana. Youko-sensei yang girang kemudian mempersilahkan kedua tamunya ini masuk dan meminta pesanan nasi hayashi special.

Tapi Tabito memandang tidak suka para pria ini. Ia merasakan ada hal ganjil pada pria yang bersama si sensei cantik.

Virtual Detective 124

Youko-sensei kembali pada Tabito dan yang lain. Tabito bahkan mempersilahkan Youko-sensei untuk datang ke apartemen mereka kapan saja.

“Kalau kau tidak percaya, tidak perlu datang. Aku tidak suka kalau ada orang yang tidak percaya pada papa, ada di sekitar papa!” ujar Tei-chan.

Ayah Youko-sensei mendekat. Rupanya ia juga masih penasaran dengan satu ‘hal’ lagi yang belum tertebak dari nasi hayashi buatannya.

“Bisakah aku jawab dengan jujur?” tanya Tabito.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di bagian kedua.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Na kok suka ya sama tatanan rambut bang Tori di sini. Berantakan gimana gitu. Hehehe … dan Na jadi kangen sama bang Mizushima Hiro en bang Mizobata Junpei. Duh … belum juga nemu nama mereka di deretan drama musim dingin ini. Malah bang Junpei maen film adaptasi manga bareng om Matsuyama Kenichi. Dan di posternya, abang Junpei … dandan cantik. #uhuk #tsurhat

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

4 comments

  1. Huaaaaaa
    Aku baru liat drama yang satu ini,
    Cerita yg menarik ????
    Lanjut ke episod berikut ya mba Na ^^
    Di tunggu ^^

    • premis ceritanya menarik
      simpel juga buat ditonton
      tapi ini cuma satu episode aja, soalnya drama SP
      buat ngisi slot acara sebelum drama musim dingin tayang di sana
      hehehehe

  2. Na, ditunggu lanjutan sinopsis drama ini ya… arigato

Leave a Reply

Scroll To Top