Home / Inspirasi / CERPEN TERJEMAHAN – Salam perpisahan terakhir si kucing

CERPEN TERJEMAHAN – Salam perpisahan terakhir si kucing

 “Layla, Gorgy mati!” Rin berteriak saat menghambur ke arahku. Wajahnya kusut masai.
“Benarkah? Bagaimana bisa?” tanyaku setelah menawarkannya sebuah pelukan lembut. 
“Aku tidak tahu. Dia pergi setelah kau pulang dari rumahku kemarin, dan saat kutemukan dia pagi ini, di sisi jalan, dia sudah kaku dan dingin!”

Kupandangi wajah manisnya. Itu pasti sulit untuknya. Rin memiliki banyak kucing di rumahnya, tapi Gorgy adalah favoritnya. Bagi seekor kucing, Gorgy memiliki wajah yang menawan. Itulah kenapa dia dipanggil Gorgy. Aku datang ke rumah Rin beberapa kali, tapi kemarin adalah pertama kalinya aku melihat Gorgy. Gorgy memiliki bulu putih bersih dan sepasang mata biru keabuan. Warna yang sangat jarang. “Aku sangat menyesal mendengarnya. Bersabarlah, ok?”

Rin mengangguk lalu menghembuskan nafas panjang. Dia bicara lagi, “Dan aku juga kehilangan gantungan kunciku.”
Aku bergerak dengan gugup, “Maksudmu, gantungan kunci yang kau tunjukkan padaku kemarin? Dengan ornamen berbentuk kucing?” Aku ingat gantungan kunci itu. Kupikir gantungan kunci itu sangat manis, dan sangat mirip dengan Gorgy.
Rin mengangguk lagi, “ Aku menggantungkan kunci laciku disana, dan sekarang aku tidak bisa mengeluarkan buku sketsaku dari laci!”
Aku menelan ludah. Rin sangat lihai dalam menggambar manga. Kehilangan hal seperti itu berarti kehilangan besar baginya. “Itu sangat buruk,” komentarku. Itu hanya komentar basa-basi. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
“Baiklah, sampai jumpa lagi. Mama akan segera menjemputku.” Rin beranjak pergi sambil melambai padaku.
“Sampai jumpa besok,” jawabku dan membalas lambaiannya. Hari itu, aku pulang dengan perasaan tidak nyaman.
***
Rin dan aku baru berteman setahun belakangan. Kami bertemu saat masuk ke SMA dan tidak lama kemudian menjadi teman dekat. Kami memiliki beberapa ketertarikan yang sama. Dia seorang genius dalam menggambar manga, dan aku, paling tidak, mencoba hal yang sama. Aku seorang pecinta buku, dan dia juga sangat menyukai buku. Dan kami juga menyukai kucing.
Aku memikirkan berita kematian Gorgy kemarin saat makan siang di kantin, sendirian. Aku prihatin karena Rin kehilangan Gorgy, dan gantungan kunci dengan ornamen menyerupai Gorgy itu. Aku baru saja bertemu Rin lagi beberapa menit yang lalu. Dengan sabar kudengarkan semua keluhannya. “Aku sangat merindukan momen saat Gorgy menggangguku saat aku bermain komputer. Dan saat aku tidur … dia akan naik ke atas tubuhku. Dan kadang-kadang … “
Aku menarik nafas. Bukankan itu hanya kebetulan jika Gorgy mati setelah aku datang ke rumahnya?
“Permisi … “
Aku nyaris melompat dari kursiku. Aku menoleh dan melihat seorang pemuda tampan yang seusia denganku berdiri di belakangku. Dia tidak memakai seragam, tapi mengenakan kaos dan calana panjang, dan warnanya seputih salju. Aku tidak mendengar kedatangannya.
Dia bicara lagi, “Kau Layla kan? Teman Rin?” pemuda ini melihat lurus ke mataku saat bicara, dan aku terpesona. Warna matanya biru. Apa dia orang asing? Entahlah. Tapi dia bicara dalam bahasa Indonesia dengan fasih.
“Ah, benar.” Aku merasa canggung di depannya. Ada sesuatu dari caranya melihatku … “Ada yang bisa kubantu?”
Dia mengulurkan tangannya, seperti meminta sesuatu. “Kembalikan apa yang kau ambil darinya.”
Jantungku berdebar, “Huh?”
“Aku melihatmu mengambilnya kemarin. Sekarang kembalikan. Itu sangat penting bagi Rin.”
“M-maksudmu, gantungan kunci?” Aku mencoba mengendalikan suaraku agar tidak bergetar. “Rin mengatakan padaku kalau itu hilang. Tapi aku tidak tahu ada dimana. Tapi, siapa kau?”
Dia semakin mendekat, membuatku kaget. Ada apa dengan orang ini? “Jangan ganti tema pembicaraan. Aku tahu kau memilikinya, sekarang berikan!”
Kecuali mataku mulai berhalusinasi, aku melihat kuku di tangannya tumbuh meruncing menyerupai … cakar. Sekarang aku benar-benar ketakutan. Dengan tangan gemetar, kuraba sakuku dan mengeluarkan gantungan kunci itu. Aku menyerahkannya, “I-ini.”
Dengan cepat dia menyambarnya dari tanganku.
“M-maaf. Aku … aku hanya cemburu. Dia menggambar sangat baik. Dan aku … tidak pernah bisa melakukannya dengan baik … Tolong jangan katakan padanya, ok? Aku benar-benar menyesal.”
Pemuda itu melirik tajam ke arahku. Aku benar-benar mempermalukan diriku. Kualihkan padanganku ke sekitar. “Tidak akan,” dia akhirnya bicara. “Terimakasih.”
Kemudian dia beranjak pergi. Aku melihatnya saat ia melewati para siswa dan berbelok ke koridor. Setiap gerakannya sangat anggun dan cekatan. Dia bergerak seperti … kucing.
Gambaran Gorgy, ornamen kucing, dan bayangan pemuda itu di pikiranku. Aku terengah-engah. “Mungkinkah … ? Tidak mungkin …”
***
Rin termenung sendirian di depan air mancur di taman sekolah. Dia sedang tidak bersemangat belakangan. Dia mencari di setiap bagian kamarnya, dan gantungan kunci itu tidak ditemukan di manapun. Menggambar di kertas terpisah tidak praktis, itu akan sangat mudah tercecer. Dan Gorgy tidak ada disana untuk menyemangatinya …
“Rin,” suara lembut seorang pemuda memanggilnya dan Rin menyadari ada seorang pemuda duduk di sampingnya. Dia duduk sangat dekat, membuat Rin merasa canggung.
Rin bertanya pada pemuda itu, “Uh, maaf, tapi apa aku mengenalmu?”
Dia tidak menjawab, hanya tersenyum hangat pada Rin. Rin melihat lebih dekat pada pemuda ini. Dia mungkin orang asing. Warna matanya biru. Dan dia tidak mengenakan seragam, hanya baju putih.
“Ini.” pemuda itu menyerahkan sesuatu pada Rin dan membuatnya terkejut. Itu gantungan kuncinya.
“Ini!” Rin bersorak saking gembiranya. “Terimakasih banyak. Dimana kau menemukannya?”
Masih dengan senyum yang sama, pemuda itu menjawab, “Aku menemukannya … terjatuh di koridor, sepertinya.”
“Terimakasih … “ Rin kembali berterimakasih padanya. “Um, siapa kau?”
Pemuda itu masih tersenyum, tetapi sekarang ada sesuatu terpancar dari matanya. Seperti perasaan sedih. Tiba-tiba saja, pemuda itu menyandar dan mengusap-usapkan pipinya pada Rin. Rin terlalu kaget untuk bereaksi, tapi kemudian, dia merasakan sesuatu yang sangat dikenalnya.
“Terimakasih telah merawatku selama ini,” bisik pemuda itu.
Kemudian ia kembali tegak, berdiri dan beranjak pergi. Rin masih membeku di tempat duduknya, masih bingung oleh sensasi yang sangat dikenalnya. Dia melihat ke arah gantungan kunci itu. Ornamen kucingnya sangat mirip Gorgy. Dia tiba-tiba menyadarinya dan dengan cepat berbalik mencari pemuda itu. Pemuda itu sudah pergi.
Rin hanya bisa berbisik sambil menahan air matanya, “Terimakasih, Gorgy.”
THE END
Diterjemahkan dari cerpen berbahasa Inggris majalah “Story”
Written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top