Home / Inspirasi / CERPEN TERJEMAHAN – Jika saja dia bisa bicara

CERPEN TERJEMAHAN – Jika saja dia bisa bicara

          Aku benar-benar kesal saat tidak dapat menemukan buku yang kucari. Buku itu begitu sulit ditemukan karena buku lama, sebuah novel oleh James Herriot, If Only They Could Talk. Temanku mengatakan kalau buku itu bisa ditemukan di perpustakaan kampus. Tapi faktanya, aku tidak dapat menemukannya. Buku itu keluar, dipinjam oleh seseorang.
Aku benar-benar merasa kesal saat ini.
Kuputuskan mencari buku itu lain kali, mungkin besok. Aku harap buku itu sudah dikembalikan. Kepalaku pening, aku ingin cepat-cepat pulang alih-alih singgah di tempat lain.
***
Perpustakaan penuh sesak. Ada banyak orang dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku masih menunggu seseorang mengembalikan novel yang kuinginkan. Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu yang menarik dibawa oleh seorang gadis. Ya itu dia!
“Maaf, apa kau sudah selesai membacanya?” tanyaku pada gadis itu.
Dia tidak merespon, ataupun menjawab pertanyaanku.
“Apa kau sudah selesai? Bisa kupinjam buku itu?” kuulangi dan kutambah pertanyaanku.
Dia mengangguk. Memberikan buku itu padaku dan meninggalkanku sendirian. Aku benar-benar senang karena mendapatkan buku itu. Tapi aku merasa kesal pada gadis itu. Kenapa dia tidak mau bersuara? Secantik apapun itu? Dia sangat arogan, begitulah aku menilainya.
Aku tidak suka gadis itu, di kesan pertamaku.
***
Akhirnya, aku menyelesaikan tugas menganalisis novel itu. Aku sangat membenci sastra, terutama analisis. Huft … ini benar-benar tugas yang menyebalkan.
Tapi, ini konsekuensinya karena aku mengambil jurusan Bahasa Inggris.
Meski benci menganalisisnya, tapi aku menyukai novel itu. Deskripsi tentang Edensor, sebuah desa di Derbyshire, Inggris membuatku terkagum-kagum. Itu adalah desa terdekat dengan kediaman Chatsworth dan kebanyakan merupakan milik bangsawan Devonshire. Aku mengaguminya. Pepohonan nan cantik, lembah yang membentang, bunga-bunga dan binatang-binatang di sana. Mungkinkan aku bisa datang kesana? Itu hanya mimpi, tentu saja.
Aku menemukan secarik kertas terselip di tengah halaman novel. Hei … ini sebuah puisi.
A piece of my Voice
I’m lonely …
Just stand in terrace
Nobody cares
I’m desolated …
Life in isolated
Nobody listened
I want to show my voice
But I have no choice
Even to get my joys
Serpih Nyanyianku
Aku sendiri membeku …
Tertegun di teras rumahku
Tiada yang pedulikanku
Aku dalam sunyiku …
Hidup di penjaraku
Tanpa ada yang mendengarku
Ingin kudendangkan nyanyianku
Tapi tak ada bisa ku laku
Meski hanya tuk jemput bahagiaku
Aku benar-benar terbius membacanya. Puisi itu sangat menyentuh. Kupikir, penulisnya pasti membuatnya sepenuh hati. Humaira, kata itu kutemukan di akhir puisi. Dia pasti penulisnya, kutebak begitu.
***
Aku melihat gadis itu berniat mengembalikan novel ke rak. Dia tampak sangat bingung. Siapa peduli? Kuabaikan dia.
Ada yang menyentuh pundakku. Aku benar-benar kaget. Gadis itu! Oh tidak! Apa yang dia inginkan dariku?
Dia menunjuk novel yang kubawa, lalu berguman dengan suara tidak jelas. Aku tidak mengerti apa maksudny. Dia menunjuk novel itu lagi lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Kau menginginkan ini?” tanyaku padanya.
Dia mengangguk. Kuberikan buku itu padanya. Dia mengambilnya dan membuka setiap halaman dengan cepat, mencari sesuatu. Dia tampak kecewa karena tidak menemukan apa yang dicarinya.
Kuasumsikan, aku tahu apa yang dia cari.
“Apa ini milikmu?” tanyaku dan menunjukkan secarik kertas padanya, “Aku menemukannya di tengah halaman novel, ngomong-ngomong, itu puisi yang bagus.”
Dia tersenyum dan menggumamkan sesuatu, “Hmmm … “
“Aku tahu, namamu Humaira kan?”
“Hummm … “
“Ya, tidak usah bicara lagi. Aku tahu namamu hum-girl—gadis bergumam, bisakah kau bicara dengan suara yang jelas alih-alih bergumam seperti itu?” cecarku padanya.
Aku benar-benar kesal karena dia tidak pernah bicara padaku. Apa suaranya terdengar menyalak?
Dia membuka bukunya. Menulis sesuatu lalu menunjukkannya padaku.
“AKU TIDAK BISA BICARA DENGAN NORMAL KARENA AKU BISU-TULI.”
Aku kaget. Itu jawaban tak terduga. Penilaianku yang menganggapnya arogan benar-benar tidak bermakna. Penilaianku keliru.
Aku melihatnya mulai menangis.
***
Aku menemuinya di hari berikutnya setelah kejadian itu untuk minta maaf. Aku beruntung karena menemukannya di perpustakaan seperti biasa.
“Ehm, maaf, Hum, aku Firman. Aku tidak bermaksud menyakitimu … “ aku kehabisan kata-kata.
“Tidak masalah. Jangan merasa bersalah,” dia menulis itu dan tersenyum padaku.
“Kau gadis yang baik, Hum. Allah melindungimu dari kata-kata yang sia-sia, dari suara yang tidak berguna. Dia menyayangimu dengan cara-Nya,” hanya itu yang bisa kukatakan padanya.
Humaira, jika saja kau bisa bicara …
Ska, 7 Nov 2013
Diterjemahkan dari cerpen berbahasa Inggris majalah “Story” edisi 49
Written by Kelana

kelana’s note :
Cerpen ini sebenarnya Kelana terjemahkan dari sebuah majalah. trus dikirim deh. Tapi karena ga dimuat oleh majalah yang bersangkutan, dan daripada nganggur di kompi, jdi Kelana post deh. Enjoy mina ^_^

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

18 comments

  1. so adorable..<br>hemm <br><br>na emng the best<br><br>big hug wat klna<br>tiwi

  2. Cantik sekali .. ceritanya<br>

  3. hira<br>hikkks<br>mo kmn boleh ikut?*<br><br>hege<br>mga z smu urusan x lncar<br>dan scpat x kmbali<br><br>tiwi

Leave a Reply

Scroll To Top