Home / Inspirasi / INSPIRASI – Eksotisme Nusakambangan, Selangkah Beranjak dari Pulau Jawa

INSPIRASI – Eksotisme Nusakambangan, Selangkah Beranjak dari Pulau Jawa

Eksotisme Nusakambangan, Selangkah Beranjak dari Pulau Jawa

          Klo ada yang bilang iseng, ya mungkin inilah klo Kelana lagi iseng. Hehehe … suka jalan-jalan? Tempat ini bisa jadi alternatif tujuan selanjutnya. Sebenarnya, Kelana pertama kali—dan entah kapan lagi—datang kesini di tahun 2003 yang lalu. Lama banget ya? Tapi kenangan tentang tempat ini tidak pernah hilang. Sayangnya Kelana ga punya foto-foto koleksinya. Maklum masih kelas 3SMP waktu it, dan hp berkamera pun belum booming.
Cek gambar2nya aja yuk
Kabupaten Cilacap adalah salah satu kabupaten terbarat Jawa Tengah. Memiliki daerah yang cukup luas dengan bentuk memanjang, sebenarnya kurang menguntungkan bagi Cilacap. Apalagi kota Cilacap sebagai pusat administrasi kabupaten tidak terletak di tengah-tengah. Berbatasan dengan kabupaten Ciamis di  Jawa Barat, kabupaten Banyumas di timur dan di utara ada kabupaten Brebes.

Salah satu hal yang cukup terkenal di Cilacap adalah keberadaan pulau Nusakambangan yang terkenal sebagai pulau penjara. Hmmm … mungkin sebutan ini tidak lagi tepat ya, sekarang ini. Karena dari 9 Lapas tempat narapidana kelas kakap ditahan, hanya tinggal empat lapas saja yang masih berfungsi hingga saat ini dan beberapa lapas baru. Dan dibalik kesan seramnya, pulau Nusakambangan ternyata menyimpan eksotisme alam luar biasa.

Untuk mencapai pulau Nusakambangan bisa dengan naik ferri dari pelabuhan Cilacap, dengan perjalanan sekitar 20 menit hingga 30 menit. Sepanjang perjalanan, akan disuguhi pesona hutan bakau dan juga desa nelayan di sepanjang pantai Cilacap.
Saat Kelana datang kesana tahun 2003 silam, hanya dua kapal yang akan menghubungkan Nusakambangan-Cilacap dalam satu minggu. Tapi berbeda dengan sekarang. Dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan, maka kapal yang menyeberang juga semakin banyak.
Begini ceritanya …
Kami adalah rombongan pelajar yang tergabung dalam Gelar Anak Daerah Bercahaya (GADA Bercahaya), yang merupakan perwakilan dari tiap kecamatan se-kabupaten Cilacap. Hari itu tanggal 17 Agustus 2013 2003, setelah mengikuti upacara peringatan HUT RI di alun-alun kabupaten, kami diajak untuk menikmati suasana alam di pulau Nusakambangan.
Selama sekitar 20 menit di atas kapal penyeberangan, kami disuguhi dengan pamandangan hutan bakau dan desa nelayan di sisi kiri. Sebuah pemandangan alami khas pantai dan kehidupan para nelayan.

Rombongan kami datang melalui dermaga Sodong. Tiba di dermaga, kami kembali naik bis. Melewati jalanan aspal yang sudah lumayan baik, kami disuguhi jalanan berkelok, suara burung-burung, bukit dan banyak sekali tanaman rimbun di sepanjang jalan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kesan Kelana … wow Kalau sekarang, jalanan ini pasti sudah mulus ya. Selain pemandangan hutan, kami juga disuguhi dengan melewati penjara Kembang kuning, penjara batu, serta gua naga dan akhirnya penjara permisan yang terkenal keangkerannya.

Perjalanan berakhir saat kami tiba di sebuah pantai pasir putih. Warna pasirnya putih bersih dengan hamparan pecahan kerang di permukaannya. Benar-benar bersih, karena nyaris tidak ada satupun bekas jejak kaki apalagi sampah yang berserakan seperti pantai pada umumnya. Dan meski lelah, saat menginjak pasir dan juga laut yang jernih, kami lupa kalau masih harus menempuh perjalanan panjang lagi.

Setelah dari pantai pasir putih, kami diajak menyusuri hutan. Meski panas saat berada di pantai, tapi semua berubah ‘nyes’ saat masuk hutan. Jalan setapak dari paving block rupanya sudah dibangun untuk para wisatawan. Dan lagi-lagi Kelana dibuat tercengang. Sangat banyak tanaman yang belum pernah Kelana lihat sebelumnya. Daun beraneka warna dan juga beraneka bentuk. Wuah … sama sekali ga nyesel deh.

Dan setelah sekitar 10 menit berjalan kaki, sampailah kami pada tujuan. Pantai permisan. Nah kalau yang ini favorit Kelana. Sebuah karang di lepas pantai bagian selatan Nusakambangan dengan satu pohon kelapa di atasnya ditemani sebuah pisau komando yang tertancap. Entah apa sebenarnya makna dari pisau ini. Tapi ini adalah salah satu pemandangan eksotis di sisi pantai. Sayang waktu datang dulu, air laut sedang pasang, sehingga tidak bisa menyeberang. Padahal jika sedang surut, kita bisa saja dengan mudah menyeberang kesana. Menurut cerita, tempat ini masih sering digunakan oleh kopassus dalam acara-acara tertentu, seperti pemasangan baret.

Kalau yang ini, mereka beruntung sekali ya. Pasti air laut sedang surut, jadi mereka bisa menyeberang ke pulau karang nan cantik ini.

Setelah puas berkeliling pantai (puas? Blon lah ya), terpaksa kami pun berbalik. Di perjalanan kembali ini, kami sempat berhenti sejenak di goa Ratu. Salah satu goa yang ada di pulau Nusakambangan.

Goa Ratu memiliki panjang sekitar 4 km dengan lebar sekitar 20 meter. Memasuki goa ini memerlukan alat penerangan. Semakin ke dalam semakin indah, dengan taburan stalakmit dan stalaktit. Namun sayang, karena panjangnya goa ini, maka pengunjung hanya bisa memasuki goa ini hingga sekitar 50 meter.

Di balik keindahan Goa Ratu, tersembunyi sebuah misteri yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Konon, Goa Ratu merupakan istana siluman dan sering dipakai sebagai tempat pertemuan raja-raja siluman. Kepercayaan itu semakin seram karena adanya batu Ganda Mayit. Konon, batu itu mengeluarkan bau seperti mayat pada malam-malam tertentu, seperti malam Jumat Kliwon. Batu misteri lainnya adalah selendang Mayang. Bentuk batu selendang Mayang ini tinggi dan besar, dengan pilar-pilar di sekelilingya. Batu ini sebenarnya stalakmit yang terbentuk ribuan tahun lalu. Terletak di tikungan goa-salah satunya menembus ke Laut Selatan-, batu ini dipercaya bisa mengeluarkan cahaya pada malam-malam tertentu pada bulan Syuro. Konon, batu selendang Mayang ini dipercaya bisa memudahkan dalam mencarikan jodoh.
Selain goa Ratu, ada juga Goa Merah. Disebut Goa merah karena dindingnya berasal dari bebatuan berwarna merah. Dan pada tahun 1960-an, digunakan juga untuk pembantaian PKI. Sering disebut juga lubang buaya kedua. Sayangnya kami tidak sempat berkunjunjung ke goa ini. hiks
Sebenarnya, perjalanan kami berakhir disini. Mau tidak mau, kami harus kembali ke Cilacap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Tapi ternyata masih ada satu obyek lain yang belum dibahas. Yup, benteng yang ada di pulau Nusakambangan.
Dengan Selat Segara Anakan yang bergelombang tenang-karena terhadang Nusakambangan- maka memudahkan kapal-kapal untuk merapat ke Pulau Jawa, tepatnya di Cilacap. Letaknya yang strategis itulah kemudian Portugis membangun Benteng Karang Bolong (Fort Karang Bolong) antara 1837-1855. Benteng ini kemudian direbut oleh kolonial Belanda.

Benteng ini berada di kaki pantai timur laut Nusakambangan dan dapat dicapai sekitar 20 menit dari dermaga Wijayapura. Memiliki lua sekitar 6000 m2, benteng yang terletak di kawasan hutan lindung ini memiliki tiga benteng utama. Salah satu bangunannya memiliki tiga lantai di permukaan. Di benteng ini terdapat ruang rapat besar serta dilengkapi meriam. Sedang dua benteng lainnya terdiri dari 2 lantai di permukaan.

Secara keseluruhan, benteng ini juga memiliki dua lantai di bawah tanah. Seperti layaknya benteng-benteng lainnya, benteng ini memiliki sejumlah ruangan, seperti barak prajurit, tahanan, ruang rapat, ruang penyimpanan amunisi dan lainnya. Benteng ini memang strategis karena bisa mengawasi jalur masuk ke Pulau Jawa-tepatnya sekarang menuju Pelabuhan Tanjung Intan, yang terdapat antara Benteng Pendem di Cilacap.
Bangunan yang terbuat dari batu bata berlapis aspal ini masih terlihat sangat kokoh. Hanya saja, sebagian besar bangunannya terlilit akar pohon yang banyak terdapat di seputaran benteng. Disarankan untuk membawa alat penerangan atau lebih baiknya headlamp bila ingin berjalan-jalan menelusuri lorong yang berada di bwah tanah. Konon, ada jalan bahwa laut yang menghubungkan benteng ini dengan benteng Pendem yang berada di seberang pulau.
Yang jelas, berada di benteng ini bisa melihat pemandangan laut dengan ombak besar menghantam pasir putih yang mempesona. Tertarik untuk berkunjung ke Nusakambangan? Nah, pilih hari libur karena perjalanan wisata hanya diijinkan pada hari libur. Dan anda tinggal memilih tempat wisata yang menjadi prioritas karena jarak satu dengan lainnya relatif jauh dan sebagian perjalanan hrus dilalui dengan jalan kaki.

Asyik kan? Kalau ada yang ngajak, Kelana mau deh kembali ke pulau ini. Masih sangat banyak tempat yang perlu untuk dikunjungi. Hehehe … habis ini kemana lagi ya?

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

4 comments

  1. tmpat yg cntik<br>sebenr x ngra qt tuh<br>kaya akn wisata alam<br>to syng pengelolaan dan dukungan dr <br>pmerintah untuk mempromosikan daerah itu gak ada..<br>jd y byk tmpat exsotis yg blum terjamah<br>pdhl klo d kelola bs nmbahin devisa negara tuh…<br>ayo klana promosikan tmpat&quot; yg indah lagi<br><br>

    • yup, bener bgt<br>pulau ini mski letaknya di kab cilacap, pengelolaannya di bawah departemen kehakiman gto<br>jdi kabupaten ga bisa ikut campur jg<br>pdahl asli deh, dateng ksini berasa berada di dunia bener2 lain<br>sngat berbeda bgt sm pulau jawa<br>

  2. Wah kelana orang cilacap juga? Kalo aku dari kecamatan kesugihan… Salam kenal . Nunu

    • salam kenal nunu<br>&#39;priwe kabare?, apik mbok?&quot;<br>hahahaha<br>kangen ngomong pke bahasa gtu lagi<br>kelana ga lahir di cilacap, tpi besar di cilacap, tepatnya di majenang<br>skrg merantau lagi deh<br>pulang bbrp bulan sekali

Leave a Reply

Scroll To Top